Catatan Etja

April 1, 2007

Aborsi Terinduksi (Induces Abortion/Abortus Provocatus) Mengapa Tidak ??

Filed under: Medical, Opini, Scientific — etja @ 2:25 pm

pre-script: sekarang modul PBL sedang membahas tentang Aborsi dalam segi etika.===============================================================Aborsi yang tidak aman merupakan masalah kesehatan masyarakat yang sering terabaikan di negara-negara berkembang dan juga masalah yang perlu mendapatkan perhatian yang serius pada perempuan dalam usia reproduksinya. (kesrepro.info,2002) Kalangan kedokteran sebenarnya mengenal dua jenis aborsi, antara lain :1. Abortus Spotaneusmerupakan mekanisme alamiah yang menyebabkan terhentinya proses kehamilan sebelum berumur 28 minggu. Penyebabnya dapat disebabkan oleh karena penyakit si ibu ataupun sebab-sebab lain yang pada umumnya berhubungan dengan kealinan pada sistem reproduksi (Syafrudin,2003)2. Abortus Provocatus ( induced abortion)Yaitu terminasi kehamilan yang dilakukan dengan sengaja karena alasan tertentu.Tentu saja yang kita bahas dalam hal ini adalah Abortus Provocatus. Sampai saat ini Indonesia masih belum melakukan legalisasi penuh terhadap aborsi. Aborsi yang diijinkan sampai saat ini hanyalah aborsi karena indikasi medis dengan persyaratan yang agak rumit yaitu persetujuan dua ahli kompeten lainnya (selengkapnya). Aborsi yang dilakukan karena sebuah kehamilan yang tidak diinginkan sampai saat ini belum dilegalisasi dengan bertameng pada alasan moral, agama, dan budaya.Marilah kita sejenak melihat sisi lain dari aborsi.

Sebuah penelitian di tahun 1950-an menunjukkan hampir separuh dari kematian ibu di daerah pedesaan di Turkey disebabkan karena aborsi yang tidak aman. Banyak perempuan berupaya menghentikan kehamilannya sendiri dengan cara memasukkan batang rumput atau benda tajam lain ke dalam rahimnya untuk memancing kontraksi. Demikian banyaknya perempuan yang pernah melakukan aborsi sehingga ketika survey lain dilakukan pada waktu yang hampir bersamaan mendapatkan bahwa aborsi merupakan tindakan yang bisa diterima oleh banyak perempuan dan tenaga medis. Sayangnya saat itu, pelayanan aborsi yang aman hanya tersedia hanya di fasilitas-fasilitas kesehatan di daerah perkotaan.

Kondisi di Turkey ini mungkin hampir sama dengan kondisi di Indonesia saat ini dimana aborsi tidak aman berkontribusi kepada tingginya kematian ibu. Walaupun Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1995 menyebutkan aborsi berkontribusi 11,1% terhadap kematian ibu di Indonesia, angka sebenarnya mungkin lebih besar lagi mengingat belum dilakukannya pencatatan data mengenai tindakan aborsi. Bahkan secara informal, Direktora Jendral Bina Kesehatan Masyarakat Departemen Kesehatan Indonesia berani menyatakan aborsi tidak aman berkontribusi hingga 50% dari kematian ibu di Indonesia ( keserepro.info,2002)Dari ilustrasi diatas, kita dapat melihat sebuah kontribusi yang diberikan oleh tindakan aborsi yang tidak aman pada meningkatnya angka kematian maternal.Patut kita pikirkan sejenak, tindakan aborsi kebanyakan terjadi karena kehamilan yang tidak diinginkan. Sesuai dengan namanya, maka si Ibu pun biasanya berusaha dengan berbagai cara untuk mengakhiri kehamilannya tersebut. Jika ia tidak dapat memperoleh pertolongan melalui jalur resmi tentu saja si Ibu akan mencoba jalur non-resmi yang tentu saja memiliki risiko amat tinggi dan tentu saja kemungkinan besar tindakan ini akan berakhir pada kematian sang Ibu. Kemudian timbul satu pertanyaan, “Apakah membiarkan wanita-wanita meninggal karena aborsi yang tidak aman merupakan tindakan bermoral ?” Jawabannya tentu “Tidak”.Kebanyakan orang takut, legalisasi aborsi akan berujung pada terbukanya lebar-lebar pintu untuk Free Sex, inilah yang sering kali menjadi alasan kontra terhadap legalisasi aborsi. Mengenai masalah ini, sebenarnya masyarakat harusnya sudah cukup dewasa untuk mengetahui untung-rugi dari sebuah tindakan. Setelah mereka mengetahui itu dan masih tetap saja mempraktikkan Free Sex sehingga berujung pada sebuah Unwanted Pregnancy, sudah seyogyanyalah bagi mereka untuk menanggung sendiri risiko dari tindakan yang mereka perbuat. Risiko yang mereka hadapi sudah sangat besar. Pelarangan aborsi akan berarti penambahan risiko aborsi menjadi lebih besar. Daripada mereka meminta tolong kepada tenaga-tenaga tidak kompeten tentu akan lebih baik jika disediakan tenaga-tenaga kompeten dan legal untuk memenuhi keinginan mereka.Praktisnya, tentu saja dokter yang akan melakukan tindakan aborsi menjelaskan untung-rugi dari perbuatan aborsi itu. Menjelaskan risiko yang mungkin terjadi dan lain sebagainya. Namun, jika akhirnya pasien tetap berketetapan untuk mengakhiri kehamilannya sudah menjadi tanggung jawab seorang dokter untuk menyediakan layanan kesehatan yang berkualitas.Moral, budaya dan agama menjadi alasan. Padahal kita seharusnya lebih merasa “tidak bermoral, tidak berbudaya dan tidak beragama” bila membiarkan saja begitu banyak perempuan mati dan kesakitan karena aborsi tidak aman. =======================================================================ps: tulisan ini hanya berupa sudut pandang lain dari aborsi. Penulis hanya berusaha menyajikan sisi lain dari aborsi tanpa bermaksud menyinggung pihak2 tertentu.

7 Comments »

  1. Aborsi memang masalh yang komplit, melaksanakan aborsi(save abortion) secara moral si dokter nya akan bimbang, karena akan berdampak seperti memuluskan free sex, padahal niatnya adalah mencegah akibat buruk yang ditimbulkan oleh free sex. Secara moral melakukan aborsi walaupun pada saat usia kehamilan dini, dokternya tetap dapat dianggap sebagai “pembunuh” embrio. Bagi dokter yang berpegang teguh pada agama, akan berpikir 2 kali, benarkah kerja saya.
    Sebagai contoh, seorang dokter tidak bersedia memasang IUD, hal ini di sebabkan dia merasa salah satu fungsi IUD itu adalah mencegah nidasi, kalau dihubungkan dengan kehidupan itu dimulai setelah pembuahan, dalam hatinya berkata termasukkah ini dalam aborsi dini?
    Sebaliknya kalau kita tinjau dalam masyarakat, dengan semakin luasnya komunikasi, seperti media cetak, media elektronik, Bagi mereka yang hanya memandang secara dangkal free sex itu identik dengan dapat melakukan hubungan suami istri secara bebas tanpa memikirkan dampak yang ditimbulkan, terutama remaja yang sedang mencari identitas diri, mereka berkhayal mereka bermimpi alangka indahnya menjadi suami istri? tapi ini tidak mungkin mereka wujudkan karena mana rumahmu?mana uangmu?mana mobilmu?mana tabanasmu?…..tunda dulu.
    Tapi di satu sisi ada yang tidak memerlukan biaya atau katakanlah biaya ringan, hanya dengan sekuntum bunga dan kata kata indah dari hulu sampai ke hilir, pasangannya terpesona, pasangan nya mengagumi, pasangan nya menginginkan, mari kita coba..Saat itu mereka lupa bahwa kerjanya itu akan berisiko besar terhadap kesehatannya, pendidikan nya, pengaruh sosial, pikiran dan perasaan,harapan orang tua nya, dll..
    sekali dua kali mereka lolos dari bahaya, coba lagi dan coba lagi karena memang pada akhirnya jadi ketagihan, sampai pada suatu saat..”mas mas “M” ku terlambat”, dia akan menjawab, “benar…..?”.berlagak pintar dia mengomentari “ah,remaja putri biasa terlambat, kok heran? krn siklus haidnya belum teratur seperti dewasa, sering remaja putri siklus haidnya anovulatoir, sehingga timbul siklus haid yang lebih panjang yang dirasakan seperti terlambat haid”
    2 minggu kemudian kekasihnya SMS lagi”mas, aku mual muntah, rasanya badan ini seperti di awang awang” saat itu pasangannya akan kaget,”wah ini celaka”. Pikirannya jauh melayang, seandainya kekasihku minta dinikahi, mati aku….usia ku muda, pendidikan ku jauh dari rampung, biaya tak jelas, apalagi kalau orang tua ku tau, aku akan ditendang, mereka akan berkata”tiada maaf bagimu”…ondeh baa ko lai,kama den ka mangadu, saat remaja putra berpikir demikian remaja putri sudah sampai di hadapannya,,”bagaimana?yakin kah kamu saat ini hamil?dia menyapa dengan sehalus mungkin”.”aku rasa mas, ini memang sudah bukan main main lagi”
    singkat kata kawin tidak mungkin yang nampak dimata hanyalh aborsi mumpung kehamilan masih kecil..”apa yang kita lakukan mas?”tanya remaja putri,”kata kawanku,minum ragi,bir(pokoknya yang panas panas lari lari lompat lompat”,
    “ya ya, aku setuju” kata remaja putra
    “itu semua sudah kulakukan, tapi hasilnya masih nihil, teman teman ku mengatakan pergi berurut ke mbah ini atau ke dukun peraji, tapi ini perlu biaya,,dari mana kita dapat biaya. Kiriman dai orang tua pas pas an, minta tambah tidak mungkin”,,jalan keluar menipu orang tua dengan membuat proposal pembelian buku..
    kemudian kedua nya pergi ke dukun peraji, si mbah udah paham, apa yang harus ia lakukan
    “tolonglah mbah”harapnya..
    remaja putri masuk kamar,remaja putra menunggu dengan penuh tanda tanya. Sunyi senyap..tak lama terdengar lengkingan suara..arghhhhh…dia terkejut,,”kenapa???”
    “ou,,ndak papa, darahnya sudah mulai keluar”kata si mbah..sementara dia tenang karena kehamilannya sudah hilang, dia kembali duduk di luar. dia masuk lagi kedalam,,makin pucat,keringat dingin, sesak nafas
    apa ini bukan hypovolemik syok???dia bertanya dalam hati….
    “ndak apa apa nak”
    lama lama kita sudah tau ujungnya MORBIDITAS atau MORTALITAS..
    Siapa yang akan disalahkan?remaja putri?remaja putra?mbah dukun?media cetak?free sex?orang tua?kawan kawan??????????????????

    Comment by MSV . — April 15, 2007 @ 6:35 am

  2. Legal abortion does not mean safe abortion. Yes, legalization allows more chance to safe more women from unsafe abortion. However, saving women requires a much bigger act than just legalizing abortion. It needs continuing efforts to increase the quality of extended maternal services for all women, not just the rich.
    I am currently working on a paper on maternal mortality, one of which issues is unsafe abortion in Indonesia.
    Thanks

    Comment by RAHAJENG — May 18, 2007 @ 7:21 am

  3. indeed legal abortion doesn’t directly lead to ultra-safe abortion.
    but as u also mention, it is indeed one of the step which lead to a better maternal health.. CMIIW..:)

    Comment by etja — May 18, 2007 @ 10:31 am

  4. hummm…..
    jaman dulu orang2 dibilang kejam karena membunuh anak2nya…..
    ada yg dibunuh krn ceweq, ada yg dibuang di kali, dLL

    rupanya sekarang lebih kejam lagi….belum hidup udah dibunuh…

    Comment by Syarief — May 25, 2007 @ 10:11 am

  5. very helpfull matter. i wish i could find the total number of abortion incident in Indonesia (at least in 2004 till 2007).
    thank you.

    Comment by eddi koswara — August 22, 2007 @ 4:54 am

  6. nampaknya Eca memprbaharui tekad, stlh melaksanakan monitoring dan evaluasi semester lalu. nilai dengan jujur sisi baik dan sisi buruk. Buat`solusi alternatif –> solusi terpilih –> laksanakan sambil terus evaluasi. Terakhir doa dan tawakal kepada Tuhan, jalankan syariat Islam secara murni dan konsisten. Apalagi kita akan memasuki bulan suci Ramadhan, Tuhan tidak akan memberi bila umatnya tidak meminta. Semoga anda sukses.

    Comment by marsal — September 1, 2007 @ 2:43 pm

  7. kematian adalah rahasia Tuhan,
    kalo akhirnya seorang manusia memutuskan untuk mendatangkan kematian untuk hidup yang baru bermula, itu adalah kejahatan kemanusiaan

    Comment by weso — February 4, 2009 @ 2:40 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

The Banana Smoothie Theme. Create a free website or blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: